LAPORAN PENDAHULUAN BAYI BARU LAHIR RENDAH ATAU BBLR (ASKEP)

ASUHAN KEPERAWATAN
BAYI BARU LAHIR RENDAH (BBLR)
                                                        
1.       DEFINISI
Bayi berat lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram ( WHO, 1961 ).
Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat badan lahir rendah dibedakan:
1.1  Bayi berat lahir rendah, berat lahir 1500 – 2500 gram
1.2  Bayi berat lahir sangat rendah, berat lahir kurang dari 1500 gram
1.3  Bayi berat lahir eksterem, Berat lahir kurang dari 1000 gram

2.      EPIDEMIOLOGI
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram (4) BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan (1,2). Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %.Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% (2,3).



3.      ETIOLOGI
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR :
3.1  Faktor ibu.Penyakit Seperti malaria, anemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
Komplikasi pada kehamilan. Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm.
3.1.1        Usia Ibu dan paritas Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia < 18 tahun
3.1.2        Faktor kebiasaan ibu, Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
3.2  Faktor Janin Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan  kromosom.
3.3  Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun.

4.      KLASIFIKASI BBLR
Klasifikasi BBLR berdasarkan berat badan :
4.1  Bayi Berat Badan Lahir Amat Sangat Rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1.000 gram.
4.2  Bayi Berat Badan Lahir Sangat Rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan lahir kurang dari 1.500 gram. Kebanyakan bayi ini adalah prematur. Bayi ini juga insidens rawat inap di rumah sakit cukup tinggi selama satu tahun pertama hidupnya.
4.3  Bayi berat Badan Lahir Cukup Rendah adalah bayi yang lahir dengan barat badan 1.501 – 2.500 gram.

Berdasarkan Usia Kehamilan Prematuritas murni. Masa Gestasi kurang dari 37 minggu dan Berat badannya sesuai dengan masa gestasi. prematuritas murni ini memiliki ciri diantaranya : berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, dan lingkar dada kurang dari 33 cm, masa gestasinya kurang dari 37 minggu, kulit tipis dan transparan, kepala lebih besar daripada badan, lanugo banyak terutama pada dahi, pelipis,telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar, labio minora belum tertutup oleh labia mayora (pada wanita) dan pada laki-laki testis belum turun, tulang rawan dan daun telinga imatur, bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah, tangisan lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnea reflek tonus leher lemah, reflek Dismaturitas vmenghisap dan menelan serta reflek batuk belum sempurna. Sedangkan dismaturitas merupakan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dikatakan dismatur apabila bayi memiliki ciri pada preterm seperti pada prematuritas, term dan post term akan dijumpai kulit berselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada, kulit pucat atau bernoda mekonium, kering keriput tipis, jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat, tali pusat berwarna kuning kehijaun.

5.      PATOFISIOLOGI
Semakin kecil dan semakin prematur bayi itu maka semakin tinggi risiko gizinya. Beberapa faktor yang memberikan efek pada masalah gizinya :
5.1 Menurunnya simpanan zat gizi. Hampir semua lemak, glikogen, dan mineral, seperti
zat besi, kalsium, fosfor dan seng dideposit selama 8 minggu terakhir kehamilan. Dengan demikian bayi preterm mempunyai peningkatan potensi terhadap hipoglikemia, rikets dan anemia.
5.2 Meningkatnya kkal untuk bertumbuh. BBLR memerlukan sekitar 120 kkal/ kg/hari, dibandingkan neonatus aterm sekitar 108 kkal/kg/hari
Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan. Koordinasi antara isap dan menelan, dengan penutupan epiglotis untuk mencegah aspirasi pneumonia, belum berkembang dengan baik sampai kehamilan 32-42 minggu. Penundaan pengosongan lambung dan buruknya motilitas usus sering terjadi pada bayi preterm
5.3 Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan. Bayi preterm mempunyai lebih sedikit simpanan garam empedu, yang diperlukan untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak , dibandingkan bayi aterm. Produksi amilase pankreas dan lipase, yaitu enzim yang terlibat dalam pencernaan lemak dan karbohidrat juga menurun. Kadar laktase juga rendah sampai sekitar kehamilan 34 minggu.
5.4 Paru-paru yang belum matang dengan peningkatan kerja bernafas dan kebutuhan kalori yang meningkat. Masalah pernafasan juga akan mengganggu makanan secara oral.
5.5 Potensial untuk kehilangan panas akibat luasnya permukaan tubuh dibandingkan dengan berat badan, dan sedikitnya lemak pada jaringan bawah kulit memberikan insulasi. Kehilangan panas ini meningkatkan keperluan kalori.

6.      MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi kliniks yang dapat di temukan pada BBLR adalah sebagai berikut :
6.1  Berat badan kurang dari 2.500 gram
6.2  Panjang badan kurang dari 45 cm
6.3  Lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm
6.4  Kepala lebih besar dari tubuh
6.5  Kulit tipis,transparan,lanugo banyank,dan lemak subkutan amat sedikit
6.6  Osifikasi tengkorak sedikit serta ubun-ubun dan sutura lebar
6.7  Genitalia imatur, labio minora belum tertutup dengan labio minora
6.8  Tulang rawan dan daun telinga belum cukup, sehingga elastisitasnya belum sempurna.
6.9  Pergerakan kurang dan lemah, tangis lemah, pernapasan belum teratur , dan sering mendapat serangan apnea.
6.10 Bayi lebih banyak tidur dari pada bangun , relaks mengisap dan menelan belum sempurna.

7.      PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
7.1  Jumlah darah lengkap: penurunan pada Hb/Ht mungkin dihubungkan dengan anemia atau kehilangan darah.
7.2  Dekrotis: menyatakan hipoglikemi.
7.3  Analisis Gas Darah (AGD): menetukan derajat keparahan distress pernapasan bila ada.
7.4  Elektrolit serumi mengkaji adanya hipokalsemia.
7.5  Bilirubin: mungkin meningkat pada polisitemia.
7.6  Urinalisis: mengkaji homostatis.
7.7  Jumlah trombosit: trombositopenia mungkin menyertai sepsis.
7.8  EKG, EEG, USG, angiografi; defek congenital atau komplikasi.

8.      PENATALAKSANAAN TERAPI
8.1  Medikamentosa
Pemberian vitamin K1 :
8.1.1        Injeksi 1 mg IM sekali pemberian,
8.1.2        Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu)
8.2  Diatetik
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada puting. ASI merupakan pilihan utama Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali. Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut :
1.      Berat lahir 1750 – 2500 gram
·         Bayi Sehat Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering (contoh: setiap jam) bila perlu.
·         Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap, tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
- Bayi Sakit Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan minum seperti pada bayi sehat.
Apabila bayi memerlukan cairan intravena:
·         Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
·         Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu.
·         Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh; gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung :
1.      Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
2.      Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali). Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.
2.      Berat lahir 1500-1749 gram
·         Bayi Sehat Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak), berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung setela 1-2 hari namun ada kalanya memakan waktu lebih dari 1 minggu)
Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum. Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
·         Bayi Sakit Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
·         Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan IV secara perlahan.
·         Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum. Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
3.      Berat lahir 1250-1499 gram
Bayi Sehat Beri ASI peras melalui pipa lambung
·         Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
·         Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
·         Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
Bayi Sakit
·         Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
·         Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan intravena secara perlahan.
·         Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
·         Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
·         Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
4.      Berat lahir tidak tergantung kondisi
·         Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
·         Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi pemberian cairan intravena secara perlahan.
·         Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
·         Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
·         Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
8.3  Suportif
Hal utama yang perlu dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal pada bayi (3):
·         Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk.
·         Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
·         Ukur suhu tubuh dengan berkala Yang juga harus diperhatikan, untuk penatalaksanaan suportif ini adalah :
-          Jaga dan pantau patensi jalan nafas
-          Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
-          Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia, kejang, gangguan nafas, hiperbilirubinemia)
-          Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya
-          Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan ibu berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.


9        Pemantauan Monitoring
9.1  Pemantauan saat dirawat
9.1.1        Terapi
Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu.
9.1.2        Tumbuh kembang
Pantau berat badan bayi secara periodic Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lair ≥1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat lahir <1500> Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari
9.1.3        Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari
9.1.4        Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
9.1.5        Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari
9.1.6        Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu.

9.2  Pemantauan setelah pulang
Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai berikut :
9.2.1        Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
9.2.2        Hitung umur koreksi
9.2.3        Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
9.2.4        Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST)
9.2.5        Awasi adanya kelainan bawaan.

10.  PENCEGAHAN
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah  yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :
10.1 Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
10.2 Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik.
10.3 Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun)
10.4 Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.





ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI
DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH
( BBLR )
1.      PENGKAJIAN
Pengkajian yang dapat dilakukan oleh seorang perawat untuk mendapatkan data, baik, obyektif maupun subjektif dari ibu adalah sebagai berikut.
1.1  Riwayat kesehatan terdahulu.
1.1.1        Apakah ibu pernah mengalami sakit kronis.
1.1.2        Apakah ibu pernah mengalami ganguan pada kehamilan sebelumnya, seperti infeksi/pendarahan anterpartum, imaturitas, dan sebagainya.
1.1.3        Apakah ibu seorang perokok.
1.1.4        Jarak kehamilan terlalu dakat.
1.2  Riwayat kesehatan sekarang.
Bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gram.
1.3  Riwayat kesehatan keluarga.
Apakah anggota keluarga pernah mengalami sakit keturunan seperti kelainan kardivaskular.
1.4  Pengkajian fisik
1.4.1        Sirkulasi
-          Nadi apical mungkin cepat dan tidak teratur dalam batas normal (120-10 detik permenit).
-          Murmur jantung yang dapat didengar dapat dapat menandakan duktus arteriosus (PDA)
1.4.2        Pernapasan
-          Mungkin dangkal, tidak teratur, dan pernapasan diafragmatik intermiten atau periodic (40-60 kali/menit).
-          Pernapasan cuping hidung, retraksi suprasternal atau substernal, juga derajat sianosis yang mungkin ada.
-          Adanya bunyi ampela auskultasi, menandakan sindrom disters pernapasan (RDS).
1.4.3        Neurosensori
-          Sutura tengkorak dan fontanel tanpa melebar, penonjolan karena ketidakadekuatan pertumbuhan tulan ungkin terlihat.
-          Kepala kecil dengan dahi menonjol, batang hidung cekung, hidung pendek mencuat, bibir atas tipis, dan dagu maju.
-          Tonus otot dapat tamapak kencang kencang dengan fleksi ekstermitas bawah dan atas serta keterbatasan gerak.
-          Pelebaran tampilan mata.
1.4.4        Makanan/cairan
-          Dispropersi berat badan dibandingkan dengan panjang dan lingkar kepela.
-          Kulit kering pecah-pecah dan terkelupas dan tidak adanya jaringan subkutan.
-          Penurunan masa, khususnya pada pipi,, bokong dan paha.
-          Ketidakstabilan metebolik hioglikemi/hipokalsemia.
1.4.5        Keamanan
-          Suhu berfluktuasi dengan mudah.
-          Tidak terdapat garis alur pada telapak tangan.
-          Warna mekonium mungkn jelas pada jari tangan dan dasar tali pusat dengan warna kehijauan.
-          Menangis mungkin lemah.
1.4.6        Seksualitas
-          Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labio mayora dengan klitoris menonjol.
-          Testis pria mungkin tidak turun, ruge mungkin banyak atau tidak tidak pada skrotum.
-          Menangis mungkin lemah.

2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa yang bisa ditegakkan oleh perawat pada bayi dengan berat badan lahir rendah adalah sebagai berikut.
2.1  Tidak efektifnya pola pernapasan yang berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan,keterbatasan perkembangan otot penurunan energy atau kelelahan, dan ketidakseimbangan metabolik.
2.2  Risiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat ekstrem (prematur <2 .500="" berlebihan="" cairan="" ginjal="" gram="" i="" imatur="" kegagalan="" kehilangan="" kulit="" kurang="" lemak="" mengonsentrasikan="" tipis="" urin="">).
2.3  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks lemah.
2.4  Risiko tinggi termoregulasi tidak efektif yang berhubungan dengan susunan saraf pusat (SSP) imatur (pusat regulasi residu, penurunan lemak subkutan, ketidakmampuan mersakan dingin atau berkeringat, cadangan metabolik buruk).

3.      PERENCANAAN
Diagnosa 1:
Tidak efektif pola pernapasan yang berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan ,  keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi atau kelelahan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan, , pola napas menjadi efektif.
Kriteria hasil:
Neonatus akan mempertahankan pla pernapasan periodik, membrane mukosa merah muda.
Intervensi :
a.       Kaji frekuensi dan pola pernapasan, perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung.
Rasional:
Membantu dalam membedakan periode perputaran pernapasan normal dari serangan apentik sejati, terutama sering terjdi pada rotasi minggu ke-30.
b.      Isap jalan napas sesuai kebutuhan.
Rasional:
Posisi ini memungkinkan mucus yang menyumbat jalan napas.
c.       Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan hiperekstensi.
Rasional:
Posisi ini memudahkan memudahkan pernapasan dan menurunkan episode apnea khususnya bila ditemukan adanya hipoksia, asidosis metabolic atau hiperkapnea.
d.      Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi.
Rasional:
Magnesium sulfat dan narkotika menekan pusat pernapasan dan aktivitas susunan syarat pusat(SSP).
e.       Pantau pemeriksaan laboratorium (misalnya: GDA, glukosa, serum, elektrolit, kultur, dan kadar obat) sesuai dengan indikasi.
Rasional :
Perbaikan kadar oksigen dan Karbondioksida dapat meningkatkan fungsi pernapasan.
f.       Berikan oksigen sesuai indikasi, seperti berikut ini.
o   Natrium bikarbonat
Rasional : Memperbaiki asidosis
o   Antibiotik
Rasional : Mengatasi infeksi pernapasan dan sepsis
o   Aminopilin
Rasional : Dapat meningkatkan aktivitas pusat pernapasan dan menurunkan sensivitas terhadap CO2, menurunkan frekuensi apnea.
Diagnosa 2 :
Risiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia berat yang ekstrem  (premature kurang dari 2.500 gram), kehilangan cairan yang berlebiahan (kulit tipis, lapisan kurng lemak, ginjal imatur / kegagaan untuk mengosentrasikan urin).
Tujuan :
Cairan terpenuhi.
Kriteria hasil:
Bebas dari tanda dehidrasi.
Menunjukan penambahn berat badan 20-30 gram/ hari.
Intervensi :
a.       Bandingkan masukan dan pengeluarn urin setiap shift dan keseimbagan kumulatif setiap prodik 24 jam. Pertahankan catatan ukuran mengenai jumlah darah yang di ambil untuk tes kaboratorium.
Rasional:
Pengeluaran harus 1-3 ml/kg/jam, sementara kebutuhan terapi cairan kira- kira 80-100 ml/kg/ hari pada hari pertama, meningkat smpai 120-140 ml/kg/hari ketiga postpartum. Pengambilan darah untuk tes menyebabakn penurunan kadar Hb/Ht.
b.      Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih atau setiap 2-4 jam dengan menginspirasi urine dari popok bayi bila bayi tidak tahan dengan kantong penampung urin.
Rasional :
Meskipun maturasi ginjal dan ketidakmampuan untuk mengonsentrasikan urine biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi peterm (rentang normal 1,006 – 1,013) kadar yang rendah menandakan volume cairan berlebihan dan kadar lebih besar dari 1,013 menandakan ketidakmampuan masukan cairan dan dehidrasi.
c.       Evaluasi turgor kulit, membrane mukosa, dan keadaan fontanel anterior.
Rasional :
Kehilangan atau perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh turgor kulit yang buruk, membran mukosa kering, dan fontamel cekung.
d.      Pantau tekanan darah, nadi, dan tekanan anterial rata-rata (TAR).
Rasional :
Kehilangan 25 % volume darah mengakibatkan syok dengan TAR kurang dari 25 mmHg menandakan hipotensi.
Kolaborasi
e.       Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai dengan indikasi Ht.
Rasional :
Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45-53%  kalium serum.
f.       Berikan infus parenteral dalam jumlah lebih besar dari 180 ml/kg, khususnya pada PDA, displasia bronkopulmonal (BPD), atau entero coltis nektrotisan (NEC).
Rasional :
Penggantian cairan darah menambah volume darah, membantu mengambilkan vasokonstriksi akibat dengan hipoksia, asidosis, dan pirau kanan ke kiri melalui PDA dan telah membantu, dalam penurunan komplikasi enterokolisis nektrotisan dan displasia  bronkopulmonal.
g.      Berikan transfusi darah.
Rasional :
Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan kegilangan darah.


Diagnosa 3:
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan simpnan nutrisi, imunitas produksi enzm, otot abdominal emah dan reflex lemah.
Tujuan :
Nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan.
Kriteria hasil:
Mempertahnakan pertunbuhan dan peningkatan berat badan dalam kurva normal dalam penambahan bert badan tetap, sedikitnya 20-30 gram/ hari.
Intevensi :
a.       Kaji mturitas reflex berkenaan dengan pemberian makan (misalnya, engisap, menelan, dan batuk)
Rasional:
Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi.
b.      Auskultasi adanya biing usus, kaji status fisik, dan status pernapasan.
Rasional:
Pemberian makanan pertama bayi stabil memiliki peristaltic dapat di mulai  6-12 jam setelah kelahiran. Bila distress pernapasan ada, cairan parenteral di indikasikan  dan cairan peroral harus di tunda.
c.       Kaji berat badan dengan menimbang beat badan setiap hari, kemudian dokumentasikan pada grafik pertumbuhan bayi.
Rasional:
Mengidentifikasikan adnya resiko derat dan risiko terhadap pola pertumbuhan. Bayi SGA  dengan kelebihan caiaran ekstrasel kemungkinan kehilangan 15% BB lahir. Bayi SGA mungkin telah mengalami penurunan berat badan dalam uterus atau mengalami penurunan simpanan lemak / glikogen.
d.      Pantau masukan dan pengeluaran. Hitung komsumsi kalori dan elektrolit setiap hari.
Rasional:
Memberikan informasi tentang masukan actual dalm hubungannya dengan perkiraan kebutuhan untuk di gunakn dalam penyesuaian diet.
e.       Kaji tingkat hidrasi, perhatiakn fontanel, turgor kulit, beat jenis urin, kondisi membrane mukosa, dan fluktasi berat badan.
Rasional :
Peningkatan kebutuhan metabolic dari bayi SGA dapat meningkatkan  kebutuhan cairan. Keadaan bayi hiperglikemi dapat mengakibatkan dieresis pada bayi.
Kolaborasi
f.       Pantau Pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
o   Glukosa serum
Rasional:
Hipoglikemia dapat terjadi pada awal 3 jm lahir bayi SGA saat cadangan glikgen dengan cepat berkurang dan glukoneigenesis tidak adekuat karena penurunan simpanan protein obat dan lemak.
o   Nitogen urea darah, kreatin, osmolaritas serum, elektrolit urine.
Rasional:
Mendeteksi perubahan fungsi ginjal berhubungan dengan penurunan simpanan nutrient dan kadar cairan akibat malnutrisi.
o   Berikan suplemen elektrolit sesuai indikasi: misalnya kalsium glikonat.
Rasional:
Ketidakstabilan metabolik pada bayi SGA/IGA dapat memerlukan suplemen untuk mempertahankan hemostasis.
Diagnosa 4:
Resiko tinggi terhadap termoregulasi tidak efektif yang berhubungan dengan perkembangan SSP imatur, penurunan rasio massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan, penurunan lemak subkutan, ketidakmampuan merasakan dingin atau berkeringat dan cadangan metabolic.
Tujuan : Termogulasi menjadi efektif sesuai dengan perkembanagan.
Kriteria hasil : Mempertahankan suhu kulit atau aksila ( 35 – 37,3C) bebas stress dan rasa dingin.
Intevensi :
a.       Kaji suhu dengan memeriksa suhu rectal pada awalnya, selanjautnya perikasa suhu aksila atau gunakan alat thermostat dengan dasar terbuaka dan penyebar hangat.
Rasional :
Hipotermia membuat bayi cenderung merasa stres karena dingin, penggunaan simpanan lemak tidak dapat diperbaharui bila ada dan                       penurunan sensitivitas untuk meningkatkan kadar CO2, atau penurunan kadar O2.



b.      Tempatkan bayi pada incubator atau dalam keadaan hangat .
Rasional :
Mempertahankan lingkunagan termonetral, membantu mencegah stress karena dingin.
c.       Pantau system pengatur suhu, penyebar hangat (pertahankan batas atas pada 98,6o F,bergantung pada ukuran dan usia bayi ).
Rasional :
Hipertermia dengan peningkatan laju metabolisme kebutuhan oksigen dan glukosa serta kehilangan air dapat terjadi bila suhu lingkungan terlalu tinggi.
d.      Pantau penambahan berat badan berturut – turut. Bila penambahan berat badan tidak adekuat, tingkatkan suhu lingkungan sesuai indikasi.
Rasional :
Ketidakadekuatan penambahan berat badan meskipun masukan kalori   adekuat dapat menandakan bahwa kalori digunakan untuk mempertahankan suhu lingkungan tubuh, sehingga memerlukan peningkatan suhu lingkungan.
Kolaborasi :
e.       Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi ( GDA, glukosa serum, elektrolit, dan kadar bilirubin).
Rasional :
Stress dingin meningkatkan kebutuhan terhadap gula glukosa dan oksigen serta dapat mengakibatkan masalah asam basa bila bayi mengalami metabolisme anaerobic bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia.peningkatan kadar bilirubin indirek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat dengan asam            lemak bersaing dengan bilirubin pada bagian ikatan di albumin.
f.       Berikan obat – obatan sesuai indikasi ;
o   Fenobarbital
Rasional : Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan hipertermia.
o   Natrium bikarbonat
Rasional : Memperbaiki asidosis yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia.




DAFTAR PUSTAKA

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas.Salemba Medika: Jakarta.
Mansjoer, Arif.Kapita Selekta Kedokteran.Ed3.Jilid1.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Media Aesculapius.2001
Setyowati T. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah (Analisa data SDKI 1994). Badan Litbang Kesehatan, 1996.


0 komentar: